Senyum dan tawanya bukan untukmu, tetapi senyum dan tawamu adalah untuknya
-Rika Nurlaili-
Suatu ketika datanglah sebuah rasa. Rasa yang perlahan tumbuh dari rasa suka, kagum, sayang, dan......cinta. Rasa yang memisahkan logika dan perasaan. Rasa yang memberaikan otak dan hati. Mengelukan lidah, mendebarkan jantung, meneteskan air mata.
Lalu cinta menyusup perlahan semakin dalam, membelit hati dengan hasrat ingin memiliki. Mendorong segala usaha untuk mencari tahu, mencari segala hal kecil remeh temeh tentang sang pujaan hati. Menyuruh mata melirik saat dia dekat, memutar kepala saat ia tak ada. Ya, cinta menuntut kita untuk selalu menjaganya dalam setiap kedip mata kita.
Semakin lama, tanpa kita sadar, kita telah terjatuh terlalu dalam. Jatuh dalam pusaran angan-angan tak pasti. Membuai dalam mimpi, membuat bibir secara otomatis tertarik membentuk senyum. Hanya dengan menatap matanya, dada ini berdegup tak karuan. Duduk di sampingnya, darah seakan berdesir lebih cepat. Tak sengaja menyentuhnya, membuat dunia serasa berhenti berputar. Betapa cinta begitu manis dan menyakitkan di saat yang bersamaan.
Sudah terlalu lama, rasa yang dipendam dalam curahan hati bersama sahabat, lembar-lembar buku harian, coretan kecil namamu dan namanya, bahkan berbait-bait puisi dan baris-baris lagu cinta. Setiap berbicara dengannya, kata cinta selalu siap meluncur dari bibirmu. Tetapi sesuatu menahanmu, menghentikan deru pernyataan cintamu, rasa malu, gengsi. Bahkan cinta harus mengalah dengan ego dan rasa malu.
Mungkin waktu terbang, bukan berjalan. Bukan hitungan hari lagi, tetapi bulan dan tahun yang mengikuti perjalanan cinta diam-diammu. Kamu tahu ada seseorang di hatinya. Yang ia impikan selama ini. Yang kau harap adalah kamu, tetapi bukan. Meski kamu tahu dia bahkan tidak melihatmu sama sekali, dengan bodohnya kau masih berharap, ia akan melihatmu. Cinta membuat kita berani berharap, meski kita tahu harapan itu kosong.
Harapan yang tumbuh dari hati yang hancur, dibangun dengan rasa sakit dan butir-butir air mata. Menipu diri sendiri, menganggap keadaan sama sebelum kau tahu siapa yang telah mencuri hatinya. Menutup mata dengan kenyataan, menjadikannya obsesi untuk dirimu sendiri. Menyedihkan sekali, cinta memang buta. Buta terhadap realita yang menyakitkan.
Namun sampai kapan akan terus begini? Terus terpuruk dalam asa semu dan bayangan akan bahagia bersamanya? Sadarilah, hidup ini bukan hanya sekedar hasrat mengejar pujaan hati. Cinta datang dari manapun. Keluarga, teman, sahabat. Dan cinta terbesar yang kita terima sepanjang hidup, cinta dari Sang Maha Pencipta. Karena cinta-Nya kita masih diizinkan menarik dan menghembuskan nafas, dan karena cinta-Nya Ia mengizinkan kita mencintai.
Ia tak pernah menyadari sakit hati dan tangisanmu. Maka jangan menangis untuknya, karena ia yang tak peduli tak pantas mendapatkan setetes air mata sekalipun darimu
-Rika Nurlaili-


