sebenarnya apa sih cita-citaku itu?
oke oke oke...itu hal yang terhitung simple untuk digalaukan, tapi orientasinya gede banget untuk masa depan. iya kan?
kayak anak tk yang ditanya cita-citanya apa, dengan entengnya njawab "Pengen jadi dokter buu" padahal nggak ngerti dokter itu kerjanya gimana, dan gimana caranya biar jadi dokter. Pas SD, pikiran kita lebih terbuka, lebih maju, tapi sedikit labil. Cita-cita berhubungan dengan sesuatu yang lagi ngetren atau disukai pada saat itu. Jaman-jamannya Thomas-Uber Cup, pasti banyak yang bilang "Aku pengen jadi kayak mereka, aaah...ntar aku jadi pemain bulu tangkis aja aah!".
Menginjak masa SMP, kita sudah mulai tau minat dan bakat kita. Dan tujuan masa depan itu ditentukan dari kemampuan kita. Sedikit-sedikit kita sudah mulai melakukan berbagai hal untuk mengimprov keahlian kita, untuk mengetahui tujuan kita itu apa. Dan masa-masa SMA itulah saat semuanya terbentuk dengan matang, saat kita sudah tahu, tetapi belum persis tahu, apa yang kita inginkan sebagai cita-cita. Ingin menjadi apa kita. Dan usaha keras pun dimulai dengan tujuan yang benar-benar jelas. Tertata.
hngg...omongan di atas kayak pidato apaan gitu ya? ogah juga sebenernya nulis begituan, nulis panjang lebar kayak politikus tapi nggak dapet upah juga :p. jadi, apa sih maksudnya itu? *plaaak*bruaaak*doeenng*
cita-citaku sebenernya udah jelas. karir di dunia internasional. entah jadi duta besar, konsul, atau anggota administrasi kedutaan besar. paling pol sih jadi Sekjen PBB ke-dua dari Indonesia. tapi masa' langsung blung jadi sekjen gitu aja? Lagipula mimpi terlalu tinggi itu nggak baik juga, bikin terlena. Aku juga pengen jadi relawan yang dikirim ke daerah terpencil, daerah yang terkena bencana, atau daerah perang yang banyak korbannya.
Untuk itulah aku berusaha selalu mengingat dan menerapkan ilmu dari ekskul PMR (yang sebenernya ikut cuma buat ngisi nilai A di rapor). untuk itu juga aku les bahasa jerman pas liburan begini (walaupun harus mengorbankan dong yi xD). untuk itu juga aku berusaha belajar berbagai bahasa otodidak. untuk itu juga aku baca buku tentang sejarah perang dunia dan CIA yang tebelnya ngalahin harry potter ke- 5.
Semuanya butuh usaha, butuh pengorbanan. Karena ujung dari semua usaha dan cita-cita ini: membahagiakan orang tuaku. Orang tua yang sudah bersusah payah membelikan sesuatu yang sangat aku perlukan tetapi nggak pernah kuminta. Orang tua yang nggak pernah bosan ngingetin untuk mandi dan makan teratur biar maag nggak kambuh. Orang tua yang selalu mendoakan anaknya di manapun dan kapanpun.
Postingan ini bukan untuk somong atau pamer atau apalah. Maaf kalau ada yang ngerasa begitu. Karena ini cuma unek-unek. Cuma curahan hati. Blog ini dibikin sebagian tujuannya memang untuk ini. Jadi, seenggaknya usaha keras ini harus berbuah manis. Harus. Harus tercapai. Terwujud. Dreams come true. Nggak cuma Cinderella yang bisa begitu. Nggak cuma Barbie yang punya happy ending di setiap ceritanya. Kita semua juga bisa punya happy ending untuk semua usaha kita. Asal kita selalu percaya dengan diri kita sendiri, dan jangan lupakan Tuhan yang sudah memberi kita segalanya.
Aku tahu usahaku ini belum cukup. Jauh dari cukup malah. Makanya aku masih ingin terus berjuang. Meraih mimpi. Nggak cuma anak-anak Laskar Pelangi aja yang bisa meraih mimpi mereka. Kita juga bisa kan?
-------------------------
eh eh eeeh...harusnya aku bikin buku aja kali ya? judulnya Cara Mbacot Ala Politikus Tanpa Bayaran *menyedihkan T.T*. ngiiing...oke, sekian deh postingan tadi. capek tau. oke, guten abend blog readers. auf widersehen!
-------------------------
Believing, being lost,
And stopping short, and everything
Maybe it’s all an answer
To why I'm alive here and now
( Kaoru Amane - Taiyou no Uta )
And stopping short, and everything
Maybe it’s all an answer
To why I'm alive here and now
( Kaoru Amane - Taiyou no Uta )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalau sudah niat komen harap cepat-cepat karena pintu teater 1 sudah dibuka (?)