Part 4: Cousin Come Back!
Ai masih memandangi cowok yang mencengkeram tangan Shaza, ya, cewek judes sekaligus kodok bengkong dari comberan seperti kata Zea itu, punya nama yang lumayan bagus. Shaza.
“ Aiii…loe kesambet yaaa?? Helloooo….” Seru Mitha sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ai.
“ Hah? Oh…eh…enggak kok, hehe…” ujar Ai, tersadar dari lamunannya. Saat mendengar nama Ai disebut, cowok itu menoleh.
“ Lhooo…Ai? Loe sekolah di sini juga?” tanya cowok itu.
“ Iya. Loe kenal gue kan? Gue kayaknya pernah liat elo, ehm…” Ai mencoba mengingat-ingat cowok itu.
“ Masa’ loe lupa sih? Gue kan….” Cowok itu akan menjawab saat Ai menyela.
“ Gue ingeeett!!! Loe Dion kan? Sepupu gue yang paling ganteng sedunia kambing! Bener kan??” jawab Ai semangat, sampai berdiri dari duduknya.
“ Iyaaa…gue Dion, sepupu elo. Gue ganteng sih, tapi gapake sedunia kambing!!” gerutu Dion.
“ Hahaha…iyadeh. Tapi, perasaan elo kan ngikut ke Vancouver sama Papa, kok balik lagi?” tanya Ai, makanya tadi ia merasa tidak mungkin itu Dion. Karena seharusnya Dion sedang sekolah di Vancouver, bukan di SMA Tunas Pertiwi ini.
“ Gue balik 2 hari yang lalu. Gue capek sekolah di sana. Kangen Indonesia. Jadi gue sama Kak Dira balik ke sini berdua,” jelas Dion.
“ Kangen Indonesia apa kangen gueee??” tanya Ai jail, matanya mengedip-ngedip ke arah Dion.
“ Apaan loe ah! Masa’ gue kangen sama elo! Weleeeehh…” ujar Dion, geleng-geleng kepala.
“ Eheeemm…sori nih yee…bukannya mau ganggu reunion kalian. Tapi, eeh..sapa loe tadi? Ah, ya. Dion, bisa nggak loe lepasin tangannya kodok bengkong. Enek tau liatnya dari tadi,” kata Tisa, memotong pembicaraan antara dua sepupu tersebut.
“ Ah, iya. Makanya tadi gue berasa pegel banget. Ternyata masih megangin dia. Udah deh, hushhh…huusshh…” Dion melepaskan tangannya dari Shaza.
“ Uuh.,..loe semua nyebelin! Tunggu aja pembalasan gue!” Shaza berbalik, meninggalkan mereka diikuti kroni-kroninya.
TENGGG!! TENGG!!
“ Wah, udah bel. Balik yuk!” ajak Zea, seraya berusaha menyeruput sisa-sia es jeruknya.
“ Oke. Oh, ya. Loe masuk kelas berapa?” tanya Ai pada Dion.
“ Gue masuk kelas 10 C, gak sekelas sama loe kok. Gue legaaaa…” cengir Dion, disambut pukulan Ai di bahunya.
“ Adaaaww…sakit Ik! Gue balik dulu deh! Bye semuanyaaa…” kata Dion sambil berlari menjauhi 4 anak yang menatapnya sambil melongo.
“ Eh, habis ini pelajarannya Bu Dila! Cepetan yuk!” ajak Mitha. Ketiga temannya mengangguk, lalu mereka berjalan menuju kelas 10 A.
…
Suasana kelas 10 A lengang. Yang terdengar hanya bunyi goresan pulpen di atas kertas. Sementara Bu Dila sedang duduk di bangku guru. Mengawasi murid-muridnya. Ya, Bu Dila baru saja memberikan ulangan dadakan sejarah. Tanpa pemberitahuan. Jelas saja para siswa langsung protes, tapi hanya dalam bisikan, atau dalam hati. Kalau berani bicara, siap-siap saja berdiri di lapangan basket sampai pelajaran selesai. Berarti, selama satu seperempat jam.
Ai memandangi soal nomor 4 dengan pandangan kesal. Seakan-akan soal itu telah menginjak-injak dirinya. Dalam hati ia masih saja menggerundel, siapa sih yang menciptakan pelajaran sejarah? Pasti orang yang nggak suka sama anak-anak sekolah. Dengan begitu ia bisa menyiksa anak sekolah lewat pelajaran sejarah. Ai yakin begitu, Soalnya, sejarah kan mengulang masa lalu. Siapa sih yang suka mengungkit-ungkit masa lalu?
Kembali ke soal nomor 4. Jelaskan 12 kementrian yang dibentuk pada sidang PPKI yang ke-2. Huuuh…wakil presiden masa itu aja nggak ngerti, gimana mau tau kementriannya? Arrgghhh!!
Sementara itu, Bu Dila malah sedang asyik makan kacang atom. Gila ya tuh guru? Muridnya lagi tersiksa lahir batin, eeh…malah makan kacang atom. Menggoda iman tuh, batin Ai.
TENGGG!! TENGG!!!
Heh? Udah bel? Gila, gue kan belum selesaaai!! Teriak Ai dalam hati. Soalnya sebenarnya hanya 5, tetapi jawabannya benar-benar menguras energi dan kertas.
“ Sudah habis waktunya, ayo dikumpulkan,” suara Bu Dila memecah bisikan-bisikan panic di seluruh kelas.
Tidak ada yang memperhatikan. Murid-murid sibuk mencari jawaban soal-soal yang belum selesai. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencontek jawaban temannya. Yang paling nekat, langsung membuka buku paket sejarah, dan menyalin jawaban.
“ANAK-ANAK! KUMPULKAN SEKARANG JUGAAAAA!! KALAU TIDAK, SAYA SURUH NGURAS KAMAR MANDI SELAMA 1 MINGGU!!”
…
“ Ai, pulang bareng yuk. Sekalian gue mau sowan ke Kak Tera. Boleh nggak?” tanya Dion sepulang sekolah. Menjajari langkah Ai di depan gerbang sekolah.
“ Ayo aja. Gue naik angkot nih. Loe gimana?” ujar Ai.
“ Gue bawa motor. Tunggu bentar ye,” Dion berlari secepat kilat kea rah parkiran, lalu kembali dengan motornya.
“ Naik gih, cepetan,” suruh Dion.
Ai menurut. Tanpa banyak bicara, ia langsung duduk di boncengan Dion. Otaknya sedang lelah sekali setelah ulangan sejarah tadi. Mau bicara saja rasanya susah.
Motor Dion melaju di jalanan yang penuh anak sekolah. Kebanyakan berseragam SMA seperti mereka, dan SMP. Karena letak sekolah mereka bersebelahan dengan sebuah SMP swasta.
Sampai di depan rumah, Ai dan Dion masuk. Kak Tera tampak sangat senang saat mengetahui Dion kembali dari luar negeri. Di tengah perbincangan mereka, telepon berdering.
Tera berjalan menuju meja telepon, sementara Ai dan Dion masih mengobrol. Diangkatnya telepon tersebut.
“ Halo…”
“Halo, benar ini rumah keluarga Pramasti?”
“ Iya, ada apa ya?”
“ Begini….
Tera membeku di tempatnya. Gagang telepon jatuh ke lantai dengan suara keras. Ai dan Dion yang mendengarnya segera mengajmpiri Tera yang diam tak bergeming.
“ Kakak, kenapa?”
“ Ai…ada…kabar…buruk…”
sorry ya ntar gue mau ngebacot agak banyak *prolog*
BalasHapustapi gue agak sebel aja kenapa selalu klo mau konflik, pasti to bo continued. jdx konflik sllu ada di part selanjutx tepatx di bagian awal cerita.
dari situ gue ngerasa kurang dapet konfliknya coz udh agak kurang 'ngeh' sama konflik kalo udah dipotong.
blh sii ngasih konflik trus di jeda kayak gni,
tp seenggaknya dalam 1 part tolong kasih momen yang mengena, mksdx jgn datar2 aja trus pas mau konflik kepotong.
gitu aja deh, sekian,
wasalam.
*et dah, ni komen apa UUD '45 sih?*
hhe, maaf ya klo kepanjangan. tp penulis yang baik klo bisa nerima pujian pasti juga fine fine aja kan sam kritikan??
_ema_
oke aja deh..
BalasHapustapi gini ya, tujuanku ngasi konflik kepotong itu adalah, biar aku bisa agak membelokkan ceritanya, setelah liat komen kalian.
oke, sori kalo ceritanya kesannya datar ato apalah, itu menurutmu. setiap part itu aku kasih konflik dan penyelesaian, aku potong,soalnya aku nggak mau bikin cerita yang alurnya naik terus turun. tapi aku bikinnya naik turun naik turun (??)
maaf kalo emang nggak sesuai harapanmu, aku terima deh kritikannya. ntar aku edit lagi part 5 yang sbenenernya udah siap post.
................................................
beeuuhh..ikutan panjang nih!
oke okeee. makasih ya udh nerima kritik ini..
BalasHapuseh, tpi jgn hanya patokan di comen q aja lho! ntar ga objektif,,
btw, ank2 d'acom laennya kmana siihh?
kok jd cma bls2an komen??
mending qm jg minta pendapat yg laen dgn cara komen disinii..
ntar kesanx egois lg klo gue doang yang comen.
oceocee??
ikut!!!
BalasHapusmangap ea...
saia baru baca lho!!!!
*ditimpuk pake sandal jepit
terserah ah maw dimana klimaksna...
tapi seru!!!
eank d.tunggu nto Dion ta?
btw, napa pke nama.Qu smua???
Ai=dari ha....
Ian =dari ra....
Dion=nama mantan gue
*plak!
hoho...
komentku lebih kee pidato...