Part 1: 5 Tahun Penantian
Kilatan cahaya membelah langit malam ini. Diiringi derasnya hujan yang seakan tak mau berhenti. Dalam suasana seperti ini, sudah pasti tidak ada yang mau repot-repot keluar bahkan sejengkal dari rumah. Alasannya sama, dingin, basah, becek. Tipikal orang modern dengan hidup yang harus sempurna.
Kilatan cahaya membelah langit malam ini. Diiringi derasnya hujan yang seakan tak mau berhenti. Dalam suasana seperti ini, sudah pasti tidak ada yang mau repot-repot keluar bahkan sejengkal dari rumah. Alasannya sama, dingin, basah, becek. Tipikal orang modern dengan hidup yang harus sempurna.
Namun di tengah guyuran hujan yang makin menjadi-jadi, tampak seorang remaja perempuan berjalan cepat -lebih tepatnya- berlari di sepanjang jalan. Gadis itu tidak mengenakan jas hujan, bahkan ia tidak membawa payung. Sekujur tubuhnya basah kuyup, dan larinya melambat.
Dan akhirnya, gadis itu berhenti. Tangannya memegang sesuatu, selembar foto. Seraya mengelus foto yang sudah basah tersebut, gadis itu bergumam
“ Ternyata memang waktu yang memisahkan kita….”
…….
“ Huuhh…panas bangeettt…emang loe nunggu siapa sih? Dibela-belain banget,” keluh seorang remaja berambut keriting seraya mengipasi badannya dengan tangan.
“ Mmh…ya, gitu deh. Tapi bentar lagi dia dateng kok. Loe sabar aja Ze…” ujar temannya, yang sedang menunggu seseorang tersebut.
Dua remaja ini sedang berada di tepi Jalan Flora. Jalan ini jarang dilewati orang, sehingga suasananya sepi. Belum lagi, di sini belum banyak rumah penduduk, yang ada hanya padang ilalang.
“ Kalo gue itung, loe udah ngomong ‘bentar lagi dia dateng, kok’ itu udah 1000 kali sejak kita nungguin. Lah, buktinya? Gue aja udah lumutan kayak patung pancoran gini,” kata Ze, atau Zea.
“ Lagian Ai, ini bukan pertama kalinya loe ngajak gue nungguin orang itu. Dan loe nggak pernah ngasih tau siapa yang bikin elo nunggu kayak gini. Jujur, Ai, siapa dia?” Tanya Zea dengan wajah serius.
Temannya, Ai, hanya tersenyum. Ia mengeluarkan sebotol Pulpy Maid Orange dari tasnya, dan memberikannya pada Zea.
“ Nih, kalo loe kepanasan, minum aja punya gue. Asal…..” sebelum Ai menyelesaikan kalimatnya, botol tersebut sudah lenyap dari tangannya.
“ Zeaaaa!! Gila loe, jangan diabisin! Loe boleh minum punya gue asal jangan diabisin! Gue juga hauuuuus..!!” omel Ai saat minumannya ‘diculik’ paksa oleh Zea.
“ Hehehehe…gue aus banget. Makanya gue embat deh. Soriiii….” Cengir Zea sambil mengembalikan botol yang sudah kosong.
“ Ughh….ya udah deh. Kita pulang aja yuk. Udah sore,” Ai membetulkan letak tas di bahunya.
“ Gitu deh dari tadi! Ayo pulang!” ujar Zea bersemangat, menggandeng tangan Ai dan menyebrangi jalan.
Sejenak, Ai menoleh ke ujung jalan. Di sana kosong, hanya ada jalan aspal berdebu. Menghela nafas sejenak, Ai berbisik:
“ Kapan waktu mempertemukan kita kembali?”
…
Ai meletakkan secangkir teh di hadapannya. Ia masih belum berganti seragam. Tasnya ia letakkan sembarangan di sofa, sementara ia sendiri duduk di karpet. Sekali lagi, ia merasa lelah. Bukan karena berdiri selama 2 jam, tetapi akan penantiannya. Semua orang tahu menunggu itu membosankan, benar kan ? Menunggu 5 menit saja orang sudah uring-uringan. Apalagi menunggu selama 5 tahun.
5 tahun? Selama itukah? Hanya Ai yang tahu. Alasan mengapa ia rela menunggu selama itu. Apa yang menyebabkannya begitu sabar menanti?
Janji. Janji yang diberikan orang itu sebelum ia pergi. Sepenggal janji yang tak tahu akan ditepatinya. Janji bahwa ia akan kembali.
Ai menghela nafas panjang. Diraihnya cangkir teh yang hampir dingin tersebut, lalu meneguk isinya perlahan. Pikirannya jadi lebih sedikit tenang setelah minum teh tersebut.
“ Masih punya kesabaran untuknya, Ai?” Tanya seseorang di belakangnya.
“ Kakak….”
Kakak Ai, Tera, duduk di sampingnya. Sebelah tangannya mengelus rambut Ai dengan sayang.
“ Jangan pernah kamu sia-siakan waktumu,hanya untuk menunggu hal yang tak pasti….” Ujar Tera lembut.
Dan akhirnya, Ai pun menangis di pelukan kakaknya, menumpahkan segala kegundahan hatinya,
“ Waktu yang memisahkan kami, waktu pula yang membuatnya mengucap janji. Dan jika ia kembali, waktukah yang akan mengembalikannya?”
wih...bagus jga nih...
BalasHapusmakasi..makasii...
BalasHapuspart 2 udah dipost lho..
ni si Ai nungguin siapa sih?? Penasaraann.. oke, saya baca part 2 nyaaa....
BalasHapus