Untuk sahabat, teman, dan tetangga terbaikku, Ai…
Hari ini akan tiba, aku tahu. Maaf aku tidak bilang padamu, karena rasanya sakit untuk membayangkan air matamu. Tidak, jangan menangis, jangan tangisi aku.
Aku tidak pergi selamanya, aku masih di dunia ini, meski jauh. Kau tahu, aku akan kembali. Pasti.
Ini singkat, tapi kuharap aku tidak terlambat. Aku telah bersumpah pada waktu, tak akan melepasmu. Ini sulit kukatakan, tapi kuakui, aku sayang padamu.
Sumpahku pada waktu pula, yang membuatku pergi. Tapi aku yakin, jika memang ini jalannya, waktu pula yang akan mempertemukan kita.
Waktuku tak akan lama, jika ini tentang hati. Aku telah nyatakan padamu, dan sekarang, aku bertanya padamu.
Bersediakah kau menungguku?
“ Eh, loe udah bikin berita buat mading belum?” tanya Zea pada Ai, Tisa , dan Mitha.
“ Gue sih udah, tinggal diedit beberapa aja,” jawab Tisa sambil mengunyah baksonya. Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah.
“ Yah, enak loe. Gue aja belom dapet inspirasi. Gimana mau bikin beritanya?” gerutu Mitha, menyeruput es jeruknya dengan ekspresi sebal.
“ Makanya…jangan molor mulu…ilang kan inspirasinya….” Tawa Zea, Tisa , dan Mitha terdengar setelah kata-kata Ai tersebut.
“ Jahat loe, gue gak tidur mulu lagi. Lagian, elo udah selesai belum?” tanya Mitha pada Ai, setengah merajuk.
“ Udah, tinggal dikumpulin,” jawab Ai santai.
“ Gile loe, dasar anak rajin,” kata Tisa , disertai cengiran Ai.
Mereka melanjutkan makan mereka, saat sebuah suara menyela:
“ Heh, minggir loe pada, gue mau duduk di sini.”
Mereka berempat mendongak. Seorang cewek, cantik, tapi sayangnya, judesnya minta ampun, berdiri di samping meja mereka. Anggota geng-nya, berdiri di belakangnya.
“ Nggak. Kita udah duluan di sini,” jawab Zea cuek.
“ Heh, loe nggak tau siapa kita?” seru si cewek judes.
“ Tau. Loe si kodok bengkong dari comberan kan ?” ujar Tisa , disertai kikikan ketiga temannya.
“ Beraninya loe. Emang loe siapa?” tantang si cewek itu lagi.
“ Gue? Manusia lah. Nggak kayak elo,” balas Tisa tak kalah pedasnya.
“ Loe….” Tangan si cewek sudah setengah jalan menuju pipi Tisa , saat sebuah tangan menahannya.
“ Jangan ganggu mereka,” sahut sebuah suara. Cowok.
“ Lepasin gue!” pekik si cewek. Meronta.
Ai tersentak mendengar suara cowok itu. Bukan karena rontaan si cewek judes. Tetapi…
Dengan ragu, Ai menoleh untuk melihat penyelamat mereka.
“ Tidak mungkin…”
Hayooooo itu IAN yaa? *ah masa?*
BalasHapusAWAS kalo ampe beneran ian!
ntar saya copas kata2 ank2 d'acom waktu mengomentari novel: ide cerita mudah ditebak!
kasih tokoh baru yaaa..
.
ah kependekan nih!
masa nyelamatinx cuma gitu doang??
.
duh, maaf ya kebanyakan bacot. tapi part 4 nya udh di post blum??
_ema_
bumbum...
BalasHapus