The sky we saw once, will it still be there? I remember the dream we saw - Soba ni Iru Kara

Rabu, 11 Agustus 2010

Time (part 2)

Part 2: Masa Lalu

            “ Busettt, dah. Ni rumus apaan ya? Perasaan di TK ga pernah diajarin,” rutuk Ai sebal sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin di atas buku paket fisikanya.
            “ Yaiyalah…di TK mana pernah diajarin fisika? Nenek-nenek salto juga tau kaleee…” ujar Tera, mengalihkan perhatian sejenak dari pe-er matematikanya.
            “ Yah, Kak. Habisnya nggak bisa nih….” Ai menunjukkan soalnya ke Tera.
            Tera beringsut mendekati Ai dan melihat bukunya. Seketika Tera menggeleng-gelengkan kepala.
            “ Aelaaaaahh…ini rumus frekuensi getaran, SMP kan udah diajarin, sekarang diulang lagi, masa’ nggak bisa siihh??” kata Tera.
            “ Iiih…Kakak! Ajarin napa? Malah ngejek-ngejek!” balas Ai, cemberut mendengar kakaknya.
            “ Yaudaahh…..gini lho…jadi, frekuensi itu jumlah getaran dalam satu sekon, nah frekuensi itu sama dengan 1/periode, jadi ini kan udah ada periodenya, 2 s. Ya jawabnya setengah Hz dong…” Tera mengajari Ai tentang soalnya, dan Ai mengangguk-angguk tanda mengerti.
            “ Oh iya….hehe…makasih Kak…hehehe…” cengir Ai, sambil mnggesek-gesekkan ujung bolpoin di kepalanya.
            “ Nah, tuh ngerti, cengar-cengir mulu…” sindir Tera, dengan hadiah toyoran di kepala oleh Ai.
            Tera dan Ai, mereka selalu begini. Sekarang mereka sedang belajar di ruang keluarga, selain karena cahaya lampunya yang paling terang, dekat dengan dapur serta kamar mandi, juga supaya mereka dapat langsung menemui orang tua mereka jika pulang. Akan tetapi, mereka jarang sekali pulang. Pak Ferdi, ayah mereka, adalah seorang General Manager Permata Corp. Ia sering pergi ke Vancouver untuk mengurus perusahaannya. Sementara Bu Revi, ibu Tera dan Ai, adalah seorang sutradara di Week’s Home Production. Jelas saja, dari pekerjaannya, ia lebih suka menginap di lokasi syuting karena jadwal syuting yang tidak ada hentinya.
            “ Hei, kakak udah ngantuk nih. Tidur duluan ya,” Tera bangkit sambil membereskan buku-bukunya.
            “ Iya, tidur aja deh. Matanya aja udah merem-melek dari tadi,” jawab Ai.
            “ Jangan lupa matikan lampu ya,” ujar Tera lalu menuju kamarnya di lantai 2.
            Ai tidak terlalu memperhatikan kakaknya lagi. Tangannya masih sibuk menulis jawaban soal fisikanya. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Ai berhenti. Dibereskannya buku dan alat tulisnya, lalu dibiarkannya tetap di atas meja. Diambilnya kunci rumah di dalam asbak kosong di atas meja, lalu membuka pintu dengan amat perlahan. Ia tidak ingin ketahuan kakaknya.
            Sebelum keluar, Ai sempat mematikan lampu ruang tamu. Jadi kakaknya mengira ia sudah masuk kamar.
            Di luar, angin berhembus pelan, sehingga cukup membuat Ai menggigil. Bintang-bintang bersinar terang, mengedip pelan ke arahnya. Ai duduk di teras, mendekap kedua lututnya. Ia ingin berpikir, dan merenungkan penantiannya selama ini.
            Ia teringat, saat pertama ia pergi, dan memutuskannya untuk menunggu….

            5 tahun yang lalu…
            “ Kakaaaak….aku pergi ‘bentar yaaaa!!” Ai, yang saat itu masih kelas 7, berteriak sambil berlari keluar rumah.
            “ Eh, Aiii! Ya ampun, anak itu…” Tera melihat adiknya itu sudah hilang dari pandangannya.
            Sementara itu, Ai telah berdiri di depan sebuah rumah berpagar hijau, dan memencet bel rumah tersebut.
            Ting tong! Ting tong!
            Lama menunggu, yang ditunggu tak juga keluar. Sampai-sampai sudah 2 jam Ai duduk-berdiri-duduk-berdiri di situ.
            “ Duh, kok lama ya?” gumam Ai.
            “ Lho, Neng Ai kok jongkok di sini? Kamar mandinya kan bukan di sini atuh…” sebuah suara mengagetkannya.
            “ Ah, Bang Her, Ai jongkok bukan mau pipis, tapi nunggu Ian,” jawab Ai.
            “ Nunggu? Lah, percuma atuh neng…” ujar Bang Her.
            “ Kenapa Bang?” tanya Ai penasaran.
            “ Lho, Den Ian kan udah pindah tadi pagi, waktu Neng Ai sekolah…” jawab Bang Her.
            “ Hah, pindah?? Pindah ke mana Bang??” tanya Ai, kaget.
            “ Wah, ndak tau neng. Kayaknya sih jauh, soalnya tadi Pak Toni bawa tiket pesawat…” jawab Bang Her.
            “ Ohh…ya udah, Ai pulang dulu ya….” Ai bangkit dan berjalan lesu.
            “ Ehhh, Neng Ai, tungguin atuh…ini tadi ada surat dari Den Ian, nitip buat neng…” Bang Her menghentikan langkah Ai, lalu memberikan sepucuk surat.
            “ Hah? Oh, ya…makasih…” sahut Ai, kemudian pulang.
            Di kamarnya, Ai membuka surat dari Ian. Dibacanya kata per kata, tanpa terasa air mata meleleh di pipinya….



           

1 komentar:

  1. Kereenn.. Saya suka bahasanya! Buset, papax ai kerja di canada??
    Hmm.. bener2 kesepian pastinyaa..
    Oh, ternyata IAN yang membuat ai menunggu??
    Oke, mari putarkan lagunya ridho rhoma! *backsound*
    hhaa

    BalasHapus

kalau sudah niat komen harap cepat-cepat karena pintu teater 1 sudah dibuka (?)