Masih satu tahun yang lalu
Dia sahabatku
Sejak pelajaran seni budaya itu, aku berpindah bangku di depannya
Aku sebangku dengan anak perempuan yang sangat aktif. Dari berbicara sampai tingkah lakunya
Kemudian aku mengenal anak yang usianya paling tua di kelas kami itu.
Kami berempat mulai akrab. Aku, dia, si anak perempuan yang aktif, dan anak laki laki besar.
Aku dan dia ternyata tinggal di daerah yang sama
Jauh, tetapi cukup dekat
Setiap hari kami pulang bersama
Naik kendaraan umum, duduk berhadapan di dekat jendela belakang
Menceritakan apapun, sampai kami berpisah
Ternyata dia mempunyai pacar.
Hampir dua tahun dia berhubungan dengannya.
Tetapi kemudian ia mendapat berita duka
Perempuan yang ia sayangi telah tiada
Anak laki laki yang kusukai candanya pun dirundung awan kelabu
Ia kehilangan, tapi tak lama
Ia menemukan pengganti hatinya
Setiap hari ia menceritakan tentang pengganti hatinya itu
Tentang pesan pesan yang diterimanya
Tentang pertama kali kamu menghiburnya saat dia menangis
Tentang betapa kamu begitu menyukainya
Aku merasa kehilangan sahabat laki laki yang kumiliki untukku sendiri
Tetapi tak lama
Kamu bilang kamu sudah berpisah dengannya
Tetapi walaupun kamu berkata begitu, aku tahu satu hal
Kamu masih menyayanginya
Dari caramu gelisah setiap hari
Dari caramu memikirkannya
Aku tahu, aku tahu semuanya
Karena tanpa sadar aku telah memerhatikan tiap detil tingkah lakumu
Pada saat itu, aku memiliki seorang kakak
Yang kupikir benar benar menyayangiku
Yang kukira benar benar memerhatikanku
Yang kukira dialah arti bahagiaku
Tetapi seperti kebanyakan perkiraan, perkiraanku salah
Dia tidak benar benar menyayangiku
Dia tidak benar benar memerhatikanku
Dia juga bukan arti bahagiaku
Dan aku menangis karenanya
Tangisan pertama dan terakhirku untuknya
Dengan dia, laki laki yang kusukai tawanya, mendengarkan tangisku dalam diam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalau sudah niat komen harap cepat-cepat karena pintu teater 1 sudah dibuka (?)