The sky we saw once, will it still be there? I remember the dream we saw - Soba ni Iru Kara

Sabtu, 13 April 2013

Laki laki Itu (A Little Bit Again of Past)

Sebelas bulan yang lalu

Dia yang mengisi hari hariku
Dia yang mengembalikan senyum dan tawaku lagi
Aku bersyukur dia masih mengingat bahwa ia masih memilkiku

Sahabat yang tak akan lelah menjadi tempat bersandar

Ketika kemudian aku mendengarnya
Kata mereka kamu sudah menyukai seseorang lagi
Tetapi aku tidak pernah tahu siapa orang itu
Tetapi anehnya, aku selalu melihatmu dan seorang anak perempuan yang -sepertinya- kau beritahu, mencuri pandang ke arahku
Dengan tatapan geli dari anak perempuan itu
Aku tidak pernah tahu apa maksudnya, sampai hari itu datang

Hari itu kau dan aku sama sama merasa bosan
Merasa malas untuk pulang ke rumah
Kamu mengajakku berjalan jalan
Kita membicarakan banyak hal
Kita berhenti sejenak di food court untuk makan
Sampai satu topik yang membuatmu gelisah dan membutku penasaran

"Kamu suka siapa sih sekarang?"
"Hah?"
"Katanya kamu sudah move on, sudah punya yang baru"
"Kata siapa?"
"Kata mereka"
"Haish, kamu ini ingin tahu sekali sih"
"Memangnya kenapa? Mereka boleh tahu sedangkan aku yang teman dekatmu saja tidak boleh"
"Bukan begitu..."
"Lalu, kamu suka siapa?"
"Kenapa kau bertanya terus sih?"
"Aku kan penasaran!"
"Dasar kamu ini..."

Aku menghela nafas, lalu beranjak dari tempatku untuk mencuci tangan. Sekembalinya aku, kulihat dia melipat tangan di atas tasnya yang diletakkan di atas meja. Terlihat bimbang.

"Ayo kita pulang"
"Bagaimana kalau orang yang aku sukai itu kamu?"

Aku menatapnya, separuh diriku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"Apa?"
"Bagaimana kalau orang yang aku suka itu kamu, Rika...."

Dua detik kemudian, yang aku sendiri herankan, tawa meluncur keluar dari mulutku.

"Kenapa kamu malah tertawa sih?"
"Habisnya lucu!"
"Apanya yang lucu?"
"Kamu....menyukaiku. Kamu yakin?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada cowok normal yang menyukai perempuan seperti aku! Hahaha"
"Hah?"

Dan kita berdua pulang, dengan tawaku yang masih berderai dan tatapan malu sekaligus jengkel darimu.

Sore yang indah, ya?

Kamis, 11 April 2013

Laki laki Itu (Still Past)

Masih satu tahun yang lalu

Dia sahabatku
Sejak pelajaran seni budaya itu, aku berpindah bangku di depannya
Aku sebangku dengan anak perempuan yang sangat aktif. Dari berbicara sampai tingkah lakunya
Kemudian aku mengenal anak yang usianya paling tua di kelas kami itu.
Kami berempat mulai akrab. Aku, dia, si anak perempuan yang aktif, dan anak laki laki besar.

Aku dan dia ternyata tinggal di daerah yang sama
Jauh, tetapi cukup dekat
Setiap hari kami pulang bersama
Naik kendaraan umum, duduk berhadapan di dekat jendela belakang
Menceritakan apapun, sampai kami berpisah

Ternyata dia mempunyai pacar.
Hampir dua tahun dia berhubungan dengannya.
Tetapi kemudian ia mendapat berita duka
Perempuan yang ia sayangi telah tiada
Anak laki laki yang kusukai candanya pun dirundung awan kelabu
Ia kehilangan, tapi tak lama

Ia menemukan pengganti hatinya

Setiap hari ia menceritakan tentang pengganti hatinya itu
Tentang pesan pesan yang diterimanya
Tentang pertama kali kamu menghiburnya saat dia menangis
Tentang betapa kamu begitu menyukainya

Aku merasa kehilangan sahabat laki laki yang kumiliki untukku sendiri

Tetapi tak lama
Kamu bilang kamu sudah berpisah dengannya
Tetapi walaupun kamu berkata begitu, aku tahu satu hal
Kamu masih menyayanginya
Dari caramu gelisah setiap hari
Dari caramu memikirkannya
Aku tahu, aku tahu semuanya

Karena tanpa sadar aku telah memerhatikan tiap detil tingkah lakumu

Pada saat itu, aku memiliki seorang kakak
Yang kupikir benar benar menyayangiku
Yang kukira benar benar memerhatikanku
Yang kukira dialah arti bahagiaku

Tetapi seperti kebanyakan perkiraan, perkiraanku salah

Dia tidak benar benar menyayangiku
Dia tidak benar benar memerhatikanku
Dia juga bukan arti bahagiaku

Dan aku menangis karenanya

Tangisan pertama dan terakhirku untuknya

Dengan dia, laki laki yang kusukai tawanya, mendengarkan tangisku dalam diam

Rabu, 10 April 2013

Laki laki Itu (Past)

Satu tahun yang lalu

Dia bukan siapa siapa
Hanya seseorang yang duduk tiga bangku jauhnya dariku saat hari pertama masa orientasi sekolah
Dia hanya teman satu kelas yang belum kutahu namanya
Aku hanya tahu dia berambut ikal pekat dan kulitnya yang gelap
Serta dua nama depannya yang tercantum di kartu pengenal berwarna biru di dadanya

Dia teman sekelasku
Setelah masa orientasi berakhir
Duduknya hanya dua bangku di belakangku
Dia duduk di belakang sendiri, bersama anak yang usianya paling tua di kelasku
Aku belum mengenalnya dengan dekat
Aku hanya suka mendengar suara ramainya dari belakang

Dia teman dekatku
Karena guru seni budaya yang menyuruh kami untuk bertukar bangku setiap pertemuan
Aku berpindah bangku tepat di sebelahnya
Mendengarnya membicarakan hasil karyanya yang -menurutnya- tidak akan membuat puas guru seni kami yang perfeksionis
Dan aku yang menyuruhnya untuk maju terlebih dahulu, dengan janji aku yang akan maju setelahnya
Dan saat itulah percakapan pertama kami dimulai

Minggu, 07 April 2013

His Everything

Do you now how it's like?
To be someone's everything

You may want to leave, but he'll be as cold as freezing winter. Untouchable.

He may wants you to leave, but You'll be as live as a corpse.

But when he wants to leave

That's the end

It means you're not his everything anymore

Oh, no

False

You are still his everything, maybe he leaves because he wants the best for you

Bullshit

If you're really his everything, he will try to be the best for you.

Not leave you for another best

Because sometimes, all that we want is to be with someone who worked up all things until there's no single reason to leave

Rabu, 03 April 2013

The Memoar of The Missing One

Kenangan

Semuanya tentang masa lalu, tapi tak harus mengenai masa lalu
Terkadang kenangan adalah sesuatu yang muncul setiap detik, menyisakan sedikit nyeri di hati

Mungkin tentang seseorang
Mungkin juga tentang suatu kejadian

Semuanya seolah mengabur, datang dalam remang dan pergi dengan meninggalkan sejuta tanda tanya

Apakah aku teman yang baik untukmu?
Apakah kebaikanmu dulu hanya sebatas apa yang kautunjukkan kepada orang yang juga sebatas peduli?
Apakah aku benar benar tidak berarti bagimu?

Kalau aku bukan teman yang baik bagimu, setidaknya biarkan aku menjadi teman baikmu saat kau telah tiada
Kalau memang kebaikanmu padaku hanya sebatas kepada orang yang peduli, biarkan aku membuang batas peduli ini sekarang
Kalau benar aku tidak berarti bagimu, biarkan aku menganggapmu sebagai teman yang berarti bagiku

Aku tahu semua ini terlambat
Dirimu sudah fana di dunia ini
Bahagiamu bukan lagi di sini
Tetapi setidaknya berilah maaf dan kesempatan bagiku
Untuk menambah bahagiamu di sana
Mendoakan yang terbaik bagimu
Mengharapkan segala kebahagiaan bagimu di sana

Karena aku akan selalu menyayangimu, Teman

Selamat tinggal, Ayu Amalia. Bahagialah di sisi-Nya :')

well


I think...I think when it's all over,
It just comes back in flashes, you know?
It's like a kaleidoscope of memories.
It just all comes back. But he never does.
I think part of me knew the second I saw him that this would happen.
It's not really anything he said or anything he did,
It was the feeling that came along with it.
And the crazy thing is I don't know if I'm ever gonna feel that way again.
But I don't know if I should.
I knew his world moved too fast and burned too bright.
But I just thought, how can the devil be pulling you toward someone who looks so much like an angel when he smiles at you?
Maybe he knew that when he saw me.
I guess I just lost my balance.
I think that the worst part of it all wasn't losing him.
It was losing me.

I don't know if you know who you are until you lose who you are.

-I Knew You were Trouble MV's narration-