The sky we saw once, will it still be there? I remember the dream we saw - Soba ni Iru Kara

Kamis, 15 Desember 2011

Sebuah Analogi: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Senyum dan tawanya bukan untukmu, tetapi senyum dan tawamu adalah untuknya
-Rika Nurlaili-

Suatu ketika datanglah sebuah rasa. Rasa yang perlahan tumbuh dari rasa suka, kagum, sayang, dan......cinta. Rasa yang memisahkan logika dan perasaan. Rasa yang memberaikan otak dan hati. Mengelukan lidah, mendebarkan jantung, meneteskan air mata.

Lalu cinta menyusup perlahan semakin dalam, membelit hati dengan hasrat ingin memiliki. Mendorong segala usaha untuk mencari tahu, mencari segala hal kecil remeh temeh tentang sang pujaan hati. Menyuruh mata melirik saat dia dekat, memutar kepala saat ia tak ada. Ya, cinta menuntut kita untuk selalu menjaganya dalam setiap kedip mata kita.

Semakin lama, tanpa kita sadar, kita telah terjatuh terlalu dalam. Jatuh dalam pusaran angan-angan tak pasti. Membuai dalam mimpi, membuat bibir secara otomatis tertarik membentuk senyum. Hanya dengan menatap matanya, dada ini berdegup tak karuan. Duduk di sampingnya, darah seakan berdesir lebih cepat. Tak sengaja menyentuhnya, membuat dunia serasa berhenti berputar. Betapa cinta begitu manis dan menyakitkan di saat yang bersamaan.

Sudah terlalu lama, rasa yang dipendam dalam curahan hati bersama sahabat, lembar-lembar buku harian, coretan kecil namamu dan namanya, bahkan berbait-bait puisi dan baris-baris lagu cinta. Setiap berbicara dengannya, kata cinta selalu siap meluncur dari bibirmu. Tetapi sesuatu menahanmu, menghentikan deru pernyataan cintamu, rasa malu, gengsi. Bahkan cinta harus mengalah dengan ego dan rasa malu.

Mungkin waktu terbang, bukan berjalan. Bukan hitungan hari lagi, tetapi bulan dan tahun yang mengikuti perjalanan cinta diam-diammu. Kamu tahu ada seseorang di hatinya. Yang ia impikan selama ini. Yang kau harap adalah kamu, tetapi bukan. Meski kamu tahu dia bahkan tidak melihatmu sama sekali, dengan bodohnya kau masih berharap, ia akan melihatmu. Cinta membuat kita berani berharap, meski kita tahu harapan itu kosong.

Harapan yang tumbuh dari hati yang hancur, dibangun dengan rasa sakit dan butir-butir air mata. Menipu diri sendiri, menganggap keadaan sama sebelum kau tahu siapa yang telah mencuri hatinya. Menutup mata dengan kenyataan, menjadikannya obsesi untuk dirimu sendiri. Menyedihkan sekali, cinta memang buta. Buta terhadap realita yang menyakitkan.

Namun sampai kapan akan terus begini? Terus terpuruk dalam asa semu dan bayangan akan bahagia bersamanya? Sadarilah, hidup ini bukan hanya sekedar hasrat mengejar pujaan hati. Cinta datang dari manapun. Keluarga, teman, sahabat. Dan cinta terbesar yang kita terima sepanjang hidup, cinta dari Sang Maha Pencipta. Karena cinta-Nya kita masih diizinkan menarik dan menghembuskan nafas, dan karena cinta-Nya Ia mengizinkan kita mencintai. 

Ia tak pernah menyadari sakit hati dan tangisanmu. Maka jangan menangis untuknya, karena ia yang tak peduli tak pantas mendapatkan setetes air mata sekalipun darimu
-Rika Nurlaili-

Jumat, 09 Desember 2011

REGRET

Pernahkah kamu menyesalinya....dari hati yang paling dalam?

Menyesal adalah hal paling tidak berguna di dunia, menurutku. Menganggap apa yang kita lakukan itu sia sia. Lalu apa? Jika pada akhirnya hal itu disesali, untuk apa kita melakukannya? Lebih baik tidak melakukannya sama sekali daripada menyesal di akhir.

Kehilangan cinta. Menyesalkah? Tidak. Kehilangan harta? Tidak juga. Kehilangan segalanya? Tidak, kita tidak akan pernah kehilangan segala yang kita punya selama kita masih punya Tuhan dan nafas.

Aku pernah melakukan suatu hal yang mungkin, seharusnya, kusesali. Menganggapnya tidak ada, bukan berati mengabaikannya. Aku hanya menganggapnya teman. Tak lebih. Lalu dia pergi begitu saja. Dan aku baru sadar, betapa ia sangat berarti. Betapa ia sangat berpengaruh. Saat ia pergi, separuh kesadaranku seperti ikut pergi bersamanya. Bodoh sekali, hanya karena satu orang saja, yang tak lebih dari secuil kekuasaan-Nya.

Kemudian waktu berjalan. Aku tidak menyesal saat itu. Karena aku bahkan belum berpikir untuk menyesalinya. Dia terus berubah, seiring waktu yang terbang semakin cepat. Perubahannya yang selama ini kulihat, perlahan menguatkanku, untuk tidak pernah menyesal. Untuk menyadari, bahwa tidak ada makhluk yang sempurna di alam ini. Sesempurna apapun anggapan orang, pasti ada setitik kekurangan di dalamnya. 

Ia tidak sebaik yang kukira. Aku semakin tahu sifat aslinya. Watak sebenarnya. Dan mempertegas keyakinanku untuk tidak pernah menyesali orang sepertinya. Mungkin Tuhan benar, melepasnya dariku, karena Ia tahu, aku terlalu baik untuk orang seperti itu. Tuhan ingin menunjukkan padaku bahwa usiaku masih sangat belia. Mungkin roda kehidupanku masih akan terus berputar, mempertemukanku dengan banyak orang, yang lebih baik, atau bahkan lebih buruk. 

Tuhan memberi jalan terbaik untuk membuka mata dan hatiku, bahwa setiap orang layak mendapatkan yang terbaik untuk diri mereka, selama mereka menghargai diri mereka apa adanya, bahwa mereka diciptakan untuk menjadi diri mereka untuk melakukan yang terbaik, tanpa ada rasa sesal di dalamnya.

Tetapi penyesalan diciptakan bukan untuk dihindari selamanya. Terkadang kita membutuhkan rasa sesal itu, untuk menguatkan diri kita, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk memahami bahwa Tuhan menyiapkan kesempatan kedua untuk semua makhluk-Nya, memperbaiki kesalahan, melakukan hal yang benar dan lebih baik lagi.

with a bunch of big smiles
rika nurlaili dewi :*

I never regret anything. Because every little detail of your life is what made you into who you are in the end.
- Drew Barrymore-