The sky we saw once, will it still be there? I remember the dream we saw - Soba ni Iru Kara

Minggu, 10 Oktober 2010

Pacaran? Apaan Sih? -__-a

hello all blogger readers. meet me again here. still gajebo rikruk, not another. well, do you want to ask me why i use english. ehm, just simple, want to try! because i often read the article with english and it looks good, so i want to make it too. for your information, this is not a copas, this is original from me. :))


alright, now i will discuss about, ehm, well, something...a littke bit annoying for me. about...what's the name of it with english? okay, a....relationship....eng...uh...


-----------------------SKIP------------------------------------------

walaaah...aku bingung~! baru juga 2 paragraf! ajir rek! mbalik bahasa kita tercintrongs! bahasa sunda!

*kriikkk...krriiikkk*

*tukang sol sepatu lewat*

*tokkeeek...tokeeekkk*

*doeeengg! solnya si tukang sol *halah mbulet* melayang*

ahem! maksud saya bahasa isyarat!

*seseorang berteriak nun jauh di sana: woi! kebanyakan bacot loe! cepetan!*

oke, para pembaca yang baik dan budiman, serta tak lupa budiwati, kita akan memakai bahasa INDONESIA. 

*tepuk tangan presiden sby dan seluruh rakyat jelata*

-------------------------------MBALIK MANEH------------------------

Yep, kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi *nyontek doanya pak oin*. Sekarang aku mau nanya nih, kalian udah pacaran belum?

*ada yang ngangguk, stengah ngangguk, geleng-geleng, bahkan goyang dombret*

Oke, jawaban ditampung *naro gentong*, nah, sekarang saya mau kasih opini, pendapat, atau apalah, terserah, sama yang namanya PACARAN.






pacaran itu dikatakan sebagai sebuah hubungan, yang biasanya nih, lanjutnya ke pernikahan, tapi seringnya, putus di tengah jalan. okelah, namanya juga remaja, masih penuh dengan gejolak masa muda, ya kan?

tapi apakah bener, sebagai remaja kita harus pacaran?

pertanyaan itu bakalan saya jawab sendiri, jawabannya NGGAK. kenapa? karena nggak ada aturan di UUD atau Pancasila yang nyebutin kita harus pacaran, iya kan? dua, saya sendiri nggak begitu ngeh soal pacaran. ambil dari kehidupan nyata aja ya, temen saya itu sudah (lumayan) banyak yang udah pernah mencicipi yang namanya pacaran. so what? bahkan salah satunya itu sohib saya tersayang. okelah, saya maklumi, itu kan hidup mereka, jadi saya nggak punya hak ngelarang kan?

tapi, oh my. liat faktanya sekarang. pacaran itu udah kayak kewajiban, bahkan integritasnya aja disamain sama upacara bendera sama belajar. dan gayanya itu loooh....waduh, budayanya aja kebarat-kebirit. saya aja masih sering ngerasa gila plus agak merinding kalo liat orang lagi mesra-mesraan di depan saya. wuih, mending nyebur ke bak mandi aja deh.

kalau berdasarkan saya, saya ini belum pernah pacaran. pacaran itu didasari rasa suka satu sama lain, berarti apakah saya belum pernah jatuh *gedebuk* cinta? wah, itu sudah pernah. patah hati juga. well, jangan dibahas. lagipula, kalau mau mikir, pacaran itu buat apa sih? toh pacaran itu nggak ditanyain waktu kita dihisab nanti. dan, sebenernya, pacaran itu banyak (banget) dampak negatifnya.

jangan lempar sandal jepit dulu, mending lempar duit. saya mau ngejelasin tentang dampak negatifnya itu. petama, prestasi itu bisa nurun. oke, pacar emang bisa jadi motivasi belajar, tapi kalau keseringan nge-date atau sms-an, atau telpon-telponan sepanjang malem sampe kuping bengkak, kapan belajarnya? trus, pulsa cepet abis, di sekolah ngantuk. kedua, boros. kalau kalian keluar, siapa yang mbayarin? pacarnya kan? biasanya sih yang cowok. uang siapa yang dipake? uang diakah? jelas bukan! duit ortunya! hei! kecil-kecil udah belajar morotin. daaan..masih buanyak lagi.

so, temenan aja cukup kan? pacran itu sebelas-duabelas kok sama temenan. temenan sebelas, pacaran duabelasnya. kan sama-sama bhisa sharing, cuman statusnya aja yang beda. lagipula, temen jauh lebih bisa diandelin, karena bisa ngomong apaaaaa...ajaaa...(kecuali yang jorok-jorok lhoo :b)






oke, itu opini saya. kalau ada yang ngerasa itu agak frontal,  sorry lhoo...itu kan cuma pendapat. dan kalau ada yang nggak terima, tersinggung, dan tersakiti hatinya *ceillah* saya minta maaf yang sebesar-besanya. and, at last but least, sorry for all my fault, in words or phrases, it's just an opinion.


cheers...


rikruk :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kalau sudah niat komen harap cepat-cepat karena pintu teater 1 sudah dibuka (?)